Ketika Prosedur Menjadi Pembunuh
Minggu
ini mestinya menjadi kebanggaan bagi warga Sulawesi Selatan, Hamdan Zoelva
seorang alumni Fakultas Hukum Univesitas Hasanuddin, menjadi ketua Mahkamah
Konstitusi yang baru menggantikan Akil Mukhtar yang terjerat kasus penyuapan,
ini berarti dua alumni Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, berada di dua
puncak lembaga hukum yang merupakan hasil reformasi, satu orang lainnya adalah
ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad. Minggu ini juga tanggal 02
Nopember 2013, hari jadi Persatuan Sepakbola Makassar (PSM), klub tertua di
Indonesia, dan merupakan klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan (bahkan
mungkin Sulawesi Barat) satu-satunya.
Lalu
sudahilah kebanggaan-kebanggaan itu, ketika di Pinrang, Sulawesi Selatan,
seorang bayi usia dua bulan meninggal, ketika sang ayah berdebat di depan loket
Rumah Sakit, dengan seorang petugas yang mestinya menjadi abdi masyarakat.
Menurut Kompas.com , meninggalnya sang bayi dikarenakan keterlambatan
penanganan Rumah Sakit Umum Lasinrang, hal ini disebabkan oleh birokrasi yang
berbelit-belit, surat keterangan warga miskin yang kurang lengkap menjadi tak
bisa membobol benteng hati petugas loket
untuk segera memproses padahal nafas bayi mulai tersengal-sengal.
Bayi
itu berasal dari kecamatan duampanua, yang jaraknya kurang lebih empat puluh
lima menit perjalanan dari ibu kota Kabupaten Pinrang, tempat Rumah Sakit Umum
Daerah Lasinrang berada. Setelah kasus ini mencuat maka seperti biasa para
birokrat akan muncul, bukan untuk bertanggung jawab, tapi untuk membela diri
dan instansi, Jawaban kepala bidang pelayanan RSUD kurang lebih ialah “surat pengantar dari
Puskesmas ditujukan ke Poli anak, bukan ke UGD, sehingga bayi tersebut tidak langsung
ditindak di samping itu karena adanya kekurangan berkas administrasi, kami
bekerja sesuai prosedur, kami sendiri tidak melihat kondisi bayi”. (sumber
Tribunnews.com)
Prosedur
telah menjadi pembunuh!, apakah prosedur salah? Manusia diciptakan dengan akal
dan hati, dokter, perawat, aparat di manapun dia bukanlah robot yang mesti
bertindak sesuai buku test prosedural, ketika seorang Ayah marah-marah di
loket, berdebat dengan ngotot, maka sebagai manusia yang memiliki akal dan hati
kita mestinya responsif bahwa ada yang mendesak dan salah disini, apakah tidak
bisa seorang petugas segera mengecek keadaan sang bayi, dan mengambil tindakan
cepat pada saat itu? Petugas pada umumnya akan kaku dan berkata “silahkan
lengkapi berkas dan tunggu dipanggil pak”.
Prosedur
dan kekakuan para aparat yang kaku telah menjadi pembunuh, andai sang bayi
adalah cucu seorang pejabat, mungkin antrian akan diabaikan, dan kepala Rumah
Sakit sendiri langsung yang akan mengawasi, walau bayi itu ternyata hanya demam
karena gigi mau tumbuh.
Ah lagu
ambulance zig zag iwan fals langsung
mengalun di kepala.
Komentar
Posting Komentar