Postingan

solusi buat PILKADA yang sering rusuh

Sebagai orang SULSEL, minggu ini merupakan minggu yang memalukan, lihat bagaimana Pemilihan Kepala Daerah di sepuluh Kabupaten berakhir dengan protes keras, bahkan di dua Kabupaten SOPPENG dan Tana Toraja berakhir ricuh dengan pembakaran, SULSEL jadi makin terkenal dengan karakter kasarnya, tidak Mahasiswa tidak pemimpin nya, dan calon pemimpinnya hobbynya ricuh dan berdebat, ujung-ujungnya kalah lalu buat rusuh, yang timbul justru kesan orang-orang SULSEL tidak dewasa dalam berpolitik. saya malu, malu, malu. BUkan hanya SULSEL yang mengalami nasib ketidakdewasaan politik ini, tapi beberapa (kalau tidak ingin dikatakan sebagian besar) wilayah Indonesia masih mengalami ini, syndrom kebebasan demokrasi, ketika kampanye mereka manampilkan wajah malaikat, berkampanye sedamai mereka bisa agar rakyat respect, menghadirkan “bidadari-bidadari” dalam wujud penyanyi dangdut, menandatangani perjanjian siap menang dan siap kalah. Kemudian hasil quick count keluar dan inilah yang terjadi. Wajah...

Reformasi Perpajakan semoga bukan jalan buntu

Tulisan ini saya tulis setelah membaca sebuah coment di FB yang mengingkan agar semua “kejahatan” pajak sebelum masa modern dianggap tidak ada istilahnya “diputihkan”. Ide yang aneh menurutku tapi juga mencerminkan bagaimana Direktorat Jenderal Pajak di masa sebelum modernisasi. Buat yang belum tahu secara garis besar saya coba gambarkan. Direktorat Jenderal Pajak sebelum modernisasi ada dua kotak besar kotak PAJAK (Kantor Pelayanan Pajak) dan kotak PBB (Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan) dan sebuah kota kecil bernama KARIKPA (Kantor Pemeriksa Pajak), jadi rahasia umum bahwa “penghasilan” di pajak itu jauh lebih besar (bahkan disbanding dengangaji modernisasi sekarang katanya), di Pajak daerah yang termasuk lahan “basah” yakni PPN,PPH OP,PPH Badan,POtput (urusin restitusi pajak), dan Pelayanan (yang nerbitkan NPWP), secara garis besar di PAJAK semua lahan itu “basah” kecuali dibagian umum, dengar cerita teman karena bagian umum di pajak “kering” maka di beberapa Kantor Pajak ...

Soe Hok-Gie Seorang Kompasianer (Jika Dia Masih Hidup)

Sebelum saya memulai,saya tegaskan bahwa tulisan ini terinspirasi dengan tulisan Nano Riantiarno "andai Gie ada" dalam buku Soe Hok Gie sekali Lagi. Aku bukanlah orang yang kenal Soe Hok Gie (jadi aku takkan terlalu sok menyebutnya Soe,atau Hok-Gie), aku hidup di masa yang berbeda, dia aktivis 60-an, sedangkan aku kenal dunia kritis diakhir 90-an dan awal 2000an, aku tak kenal dia waktu kuliah di kampus Merah, yang penuh dengan diskusi dan demonstrasi sebagaimana kampus pada umumnya di Makassar. Aku justru mengenal dia ketika pindah jalur kesekolah kedinasan, aku justru kenal dia ketika terantuk dalam pusaran birokrasi yang dikuasai orang-orang tua yangtidak bisa kerja tapi di gaji mahal sama negara. Aku menonton Gie dan Membaca tulisannya, lalu aku merasa ada pada zamannya di mana para "orang tua" dalam lingkungan kita bukannya jadi pengayom, tapi jadi contoh buat korupsi dan kebodohan!!, dan semalam ketika membaca buku "Soe Hok Gie sekali lagi", kembal...

RANTAI MAKANAN KORUPSI DAN SUAP NEGERI INI

Rakyat menyuap aparat pelaksana, karena pelaksana belajar dari seniornya jika tidak belajar maka dibuang kedaerah terpencil, seniornya begitu karena di suruh atasan langsungnya, karena atasan langsungnya disuruh kepala kantor, kepala kantor butuh buat dana taktis buat pak kanwil (buat dibelikan tiket dan oleh2 karena tiap kamis sudah kejakarta), pejabat dari pusat (buat dijamu laksana raja), atau pemeriksa, (takut nanti dicari2 salahnya).pak kanwil setor ke atasan buat meloby dewan agar anggaran ini dan itu bisa diacc, agar perundang-undangan bisa disetujui), anggota dewan gunakan buat kampanye agar terpilih lagi, sebagian buat kampanye ketua partai agar bisa jadi Calon presiden. Calon Presiden berkampanye bagi2 kan sembako buat rakyat, agar dipilih jadi Presiden. Presiden di pilih rakyat. Kesimpulan : dalam republic ini kedaulatan tertinggi ada ditangan rakyat tapi rakyat juga berada dalam rantai makanan terbawah  Catatan :pelaku-pelakunya hanya oknum dan semoga oknumnya tidak le...

REVOLUSI BIRU DJP (sebuah gagasan nakal)

Bukan kata reformasi, tapi revolusi karena hijrah itu harus sepenuh hati, langkah yang setengah setengah justru menjadi malapetaka, reformasi pajak adalah contoh, saya tidak mau menyatakan reformasi pajak gagal (takut kena sanksi hehehe), tapi reformasi ini telah membuang waktu dan berjalan kurang efektif) Direktorat Jenderal Pajak (selanjutnya di singkat DJP), telah melakukan reformasi yang berpengaruh besar pada karakter pegawainya, tapi semua itu hanya pada awal mulanya, sekarang dimana2 terungkap bahwa ada lubang besar dalam sistem ini, lubang besar yang dimanfaatkan oleh orang2 pajak yang bemental masa lalu.FAKTA: susah meperbaiki moral, apalagi jika itu sudah puluhan tahun!! Dan kenaikan gaji bukan jalannya, tapi mesti dibarengi sanksi tegas!! Berikut ada gagasan revolusi biru buat DJP yakni uji integritas para pegawai DJP, bagaimana cara pengujiannya?? 1. Manfaatkan hasil mapping sebelum modern (dulu ada mapping pegawai yang sampai sekarang tidak kelihatan gunanya, semoga buk...

catatan bangun tengah malam

Persiapan menuju hari H.... dua hari ini fisik ku drop karena ikut mengantar undangan, panas matahari selalu bisa mengalahkanku :)...belum lagi senin-jumat kemarin jadi pemateri diklat bendahara sekolah se kabupaten Barru, dan hari minggu sebelumnya dah ikut outbound kantor yang seperti bukan outbound. Btw ini akhir dari masa mudaku, apa aku menikmatinya?? apa aku menikmati masa mudaku?? sebentar lagi aku jadi pemimpin dan punya tanggung jawab yang besar, dan seperti kata film “akhir dari masa muda adalah sebuah tanjakan menikung”....sebuah masa yang sulit namun kita menginginkan buat melewatinya :) have a nice dream, karena aku belum bisa tertidur :)

tentang SUKSES dan BAHAGIA

Beberapa hari yang lalu, sempat cerita dengan beberapa teman tentang nasib seorang teman, yang begitu-begitu saja menurut kami, dan secara sadar atau tidak kita justru menyalahkan teman kita “salahnya sendiri, dia sendiri yang membuat susah dirinya, karena bla..bla...bla...” tiba2 waktu berlalu dan aku menyadari satu hal, apakah kita tahu bagaimana keberhasilan dan kesusksesan menurut teman kita itu, kita mungkin saja telah terperangkap dalam sebuah konsep kesuksesan dimana kita merasa bangga dengan pekerjaan kita, dengan gaji kita, dengan posisi kita sekarang!!!, tapi memperhatikan bahwa mungkin dia jauh lebih bahagia dari kita. Mungkin memang benar dia tidak “sesukses kita” tapi apalah makna sukses, teman kita itu mungkin jauh..jauhh..lebih bahagia dengan kesusesan menurutnya, sadarkah kita, kita terjebak dalam kamus menjadi “bawahan”, tidak merdeka, sedangkan teman kita telah menjadi pribadi bebas dan merdeka, dia tidak melihat dan perduli dengan pandangan orang tentang “sukses”...